
JENEPONTO – Suasana Laboratorium Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Fakultas Tarbiyah IAI YAPNAS Jeneponto tampak berbeda dari biasanya. Gesekan wadah, aroma khas fermentasi yang manis-asam, serta antusiasme puluhan mahasiswa semester 5 menghiasi praktik pembuatan produk bioteknologi konvensional pada mata kuliah Bioteknologi.
Dalam kegiatan praktik ini, para mahasiswa tidak hanya bergelut dengan teori di dalam kelas, tetapi juga mengaplikasikan langsung prinsip-prinsip sains melalui pembuatan produk olahan pangan berbasis mikroorganisme, seperti yoghurt, tape ketan, dan tape ubi.
Penanggung jawab mata kuliah Bioteknologi, Hasmiati,S.Pd.,M.Pd menjelaskan bahwa praktikum ini dirancang untuk melatih keterampilan proses sains mahasiswa sekaligus mengasah jiwa kewirausahaan (edupreneurship) berbasis kearifan lokal.
“Bioteknologi konvensional tidak harus rumit dan mahal. Melalui olahan tape ketan, tape ubi, dan yoghurt ini, mahasiswa belajar bagaimana mengontrol faktor suhu, kebersihan, serta peran mikroorganisme seperti Saccharomyces cerevisiae dan Lactobacillus bulgaricus secara presisi,” ungkapnya di sela-sela kegiatan.
Proses pembuatan produk ini membutuhkan ketelitian tinggi:
- Tape Ubi & Tape Ketan: Memanfaatkan bahan pangan lokal khas daerah yang dikukus, didinginkan, lalu ditaburi ragi secara merata sebelum diinkubasi selama 2–3 hari hingga menghasilkan tekstur lembut dengan rasa manis alami.
- Yoghurt Segar: Dibuat dengan memanaskan susu cair pada suhu tertentu, kemudian diinokulasi dengan starter bakteri baik dan disimpan dalam wadah kedap udara hingga mengalami proses fermentasi yang sempurna.
Hasil akhir dari praktikum ini tidak hanya dinilai dari aspek keberhasilan fermentasi—seperti aroma, rasa, dan tekstur—tetapi juga dari kreativitas kemasan (packaging) yang bernilai jual. Para mahasiswa mengemas produk mereka dengan wadah modern dan higienis sehingga siap dipasarkan di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan praktikum ini, Prodi Tadris IPA Fakultas Tarbiyah IAI YAPNAS Jeneponto membuktikan komitmennya dalam melahirkan calon pendidik sains yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga kreatif, inovatif, dan mampu memanfaatkan potensi pangan lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
